Senin, 13 Agustus 2018 - 15:43:36 WIB
CAMPYLOBACTER SEBAGAI PATOGEN FOODBORNE DISEASE
Diposting oleh : Balai Besar Penelitian Veteriner
Kategori: Artikel - Dibaca: 58 kali

campylobacter

Campylobacteriosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri dapat menyebabkan penyakit gastro-enteritis pada manusia. Spesies Campylobacter umumnya hidup pada saluran pencernaan hewan berdarah panas seperti unggas, sapi, babi, domba dan burung unta, serta hewan peliharaan termasuk kucing dan anjing. Bakteri ini juga dapat ditemukan dalam kerang. Bakteri Campylobacter berbentuk batang menyerupai spiral seperti huruf "S" atau melengkung seperti "koma". Terdapat 17 spesies dan 6 subspesies pada genus Campylobacte dan yang paling sering dilaporkan menyebabkan penyakit manusia adalah C. jejuni (subspesies jejuni) dan C. coli. Spesies lain seperti C. lari dan C. upsaliensis juga telah berhasil diisolasi dari pasien penderita diare meskipun jarang dilaporkan. Transmisi penyakit melalui makanan yang terkontaminasi (food-borne zoonosis). Spesies yang patogen terhadap manusia, 90 persen disebabkan oleh C. jejuni dan sisanya C. coli. Unggas merupakan reservoir utama dari bakteri, dan kejadian campylobakteriosis pada manusia terutama diakibatkan oleh mengkonsumsi atau menangani daging unggas. Pada hewan, Campylobacter jarang menyebabkan penyakit. Mayoritas orang yang terinfeksi oleh Campylobacter dapat pulih tetapi sebagian dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lebih parah serta dalam kurun waktu panjang. Anak-anak berusia di bawah lima tahun dan manusia lanjut usia (manula) berisiko tinggi karena mereka memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah. Kejadian Campylobacteriosis di negara maju cukup tinggi, WHO (2018) melaporkan setiap tahun hampir 1 dari 10 orang yang terinfeksi menderita sakit. Peneliti telah melaporkan, peluang sakit bagi manusia yang mengonsumsi daging ayam yang dipanggang berkisar antara 9 dari 1.000 manusia. Di negara berkembang, infeksi Campylobacter pada anak-anak di bawah usia 2 tahun sangat sering terjadi bahkan kadang-kadang menyebabkan kematian.

Manusia dapat terinfeksi oleh Campylobacter melalui beberapa cara. Studi epidemiologis telah menunjukkan hubungannya dengan adanya paparan makanan yang terkontaminasi. Penanganan dan mengkonsumsi daging unggas mentah atau setengah matang secara konsisten telah terbukti menjadi faktor risiko penting. Namun demikian kemungkinan infeksi juga dapat melalui air yang terkontaminasi oleh kotoran hewan liar yang terinfeksi, karena campylobacter dapat bertahan hidup di air. Meskipun kejadian komplikasi akibat infeksi Campylobacter tidak mungkin terjadi, namun kemungkinan munculnya konsekuensi penyakit yang diakibatkan pada jangka waktu panjang, adalah:

  • Guillan-Barre Syndrome (GBS): Meskipun jarang, Guillan-Barre Syndrome adalah penyakit paralisis akut. Gejala GBS muncul beberapa minggu setelah penyakit diare. Sekitar satu dari setiap 1.000 kasus Campylobacter yang dilaporkan terjadi di GBS.
  • Arthritis Reaktif: Infeksi Campylobacter juga dapat menyebabkan artritis reaktif dengan gejala peradangan pada sendi, mata, organ reproduksi atau kemih. Biasanya gejala muncul 18 hari setelah infeksi.
  • Komplikasi lain: Campylobacter juga dapat menyebabkan radang usus buntu atau menginfeksi bagian-bagian tertentu dari tubuh, termasuk rongga perut, jantung, sistem saraf pusat, kandung empedu, saluran kemih, atau aliran darah.

campylobacter1

Gambar : Mekanisme transmisi pathogen Campylobacter zoonosis

Campylobacteriosis biasanya sembuh setelah sekitar satu minggu, meskipun pengobatan dengan antibiotik dapat mempersingkat perjalanan penyakit. Pasien yang terinfeksi harus minum banyak cairan supaya terhindar dehidrasi selama diare berlangsung. Obat antidiare juga dapat membantu mengurangi gejala. Jumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik terus meningkat, sehingga antibiotik tertentu mungkin terbukti tidak efektif dalam mengobati jenis Campylobacter yang diberikan. Menemukan antibiotik yang efektif adalah kunci untuk mengobati infeksi bakteri ini. (Andriani)

 

Sumber :

1. Wilson D.J. et al. 2008. Tracing the Source of Campylobacteriosis. Plos Genetics.

2. [WHO]. 2018. Campylobacter Key Fact.

3. Anonim. 2018. Campylobacter. Foodborne Illness. Marler Clark 1012 First Avenue, Fifth Floor, Seattle.

4. Andriani. et al. 2013. Kajian Risiko Campylobacter sp. pada Ayam Panggang. Jurnal Kedokteran Hewan. 7(1): 56-60.

5. Epps S.V.R. et al. 2013. Foodborne Campylobacter: Infections, Metabolism, Pathogenesis and Reservoirs. Int J Environ Res Public Health. 10(12): 6292-6304