Jumat, 13 Desember 2019 - 08:19:32 WIB
Jaminan Keamanan Pangan Industri
Diposting oleh : LRPPI Residu Pestisida
Kategori: Artikel - Dibaca: 294 kali

Jaminan produk pangan yang aman merupakan hal yang wajib dipenuhi oleh industry pangan. Hal ini krusial karena pangan dikonsumsi dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Pangan yang tidak aman dapat menimbulkan berbagai jenis dampak kesehatan yang serius seperti kanker bahkan kematian karena keracunan makanan.

Industri pangan dapat menggunakan standar, pedoman atau peraturan teknis terkait keamanan pangan untuk memastikan pangan yang dihasilkannya aman.

Akan tetapi, saat ini terdapat berbagai jenis panduan dan persyaratan keamanan pangan baik yang berupa persyaratan produk maupun sistem manajemen mutu. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi kalangan industry tentang acuan keamanan pangan manakah yang sebaiknya diterapkan.

Nah, tulisan berikut akan mengulas jenis-jenis acuan keamanan pangan serta pertimbangan kesesuaian penerapannya di kalangan industri.

Secara umum, acuan keamanan pangan yang dapat diterapkan industry bias berupa standar produk dan system menajemen mutu. Standar produk bias diberlakukan wajib oleh pemerintah sehingga harus dipenuhi. Untuk, system manajemen mutu, industry dapat menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP), Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP)atau ISO 22000 Food Safety Management.

1. Standar Produk

Standar produk adalah dokumen yang berisi persyaratan mutu tertentu yang harus dipenuhi oleh produk tertentu dengan pembuktian melalui pengujian laboratorium menggunakan metode uji yang telah dipersyaratkan. Standar ini dapat diberlakukan wajib oleh pemerintah apabila menyangkut unsure Kesehatan, Keselamatan, Keamanan dan Lingkungan (K3L). Contoh standar produk antara lain SNI Kopi Instan, SNI TepungTerigu, SNI Air Mineral dll.

2. GMP

GMP merupakan sistem manajemen mutu dasar yang harus diterapkan oleh industry pangan. Persyaratan GMP diantaranya lokasi produksi, desain dan kondisi bangunan, syarat peralatan, sarana dan kegiatan kebersihan, system pengendalian hama, pengendalian keamanan pangan dari bahan mentah hingga barang jadi, sanitasi personil dan pengawasan.

3. HACCP

HACCP diterapkan melalui analisa bahaya dan pengendalian titik kritis padas etiap proses produksi. Pada HACCP, identifikasi keamanan pangan dilakukan pada setiap diagam alir proses produksi dan bukan hanya pada segi fisik bangunan dan kebersihan. Hal ini menyebabkan level keamana npangan HACCP satu tingkat lebih tinggi dibandingkan GMP.

4. ISO 22000

ISO 22000 merupakan integrasi antara HACCP dan ISO 9001 Sistem Manajemen Mutu. Sehingga, pada ISO 22000 tidak sebatas berupa pengendalian bahaya keamanan pangan, namun juga mempersyaratkan continuous improvement, komitmen manajemen, diagram Plan-Do-Check-Action (PDCA) dan kepuasan pelanggan.

Bagi industri makanan, menentukan standar dan panduan manakah yang perlu diikuti sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Pertama, industri perlu mengidentifikasi apakah produknya merupakan salah satu produk yang diberlakukan SNI Wajib atau tidak. Industri perlu mencocokkan jenis produknya dengan ruang lingkup pemberlakuaan SNI Wajib pada Peraturan Menteri. Jika produk industri merupakan jenis SNI Wajib maka industri perlu melakukan pengujian produknya ke laboratorium dan mengajukan permohonan sertifikasi SNI Wajib sesuai prosedur.

Kedua, industri perlu mengidentifikasikan kemampuannya. Bagi industri yang baru berkembang dengan kapasitas produksi kecil, maka industri tersebut dapat mulai menerapkan GMP terlebih dahulu. Seiring dengan perkembangan usaha dan kebutuhan perusahaan, industri kemudian dapat menerapkan HACCP dan ISO 22000 secara bertahap.

Meskipun demikian, banyak industri yang langsung melakukan sertifikasi ISO 22000 karena berbagai pertimbangan misalnya tuntutan pasar ekspor. Hal ini dapat dilakukan, namun memerlukan komitmen manajemen yang serius serta kerjasama seluruh personel. Karena persyaratan ISO 22000 membutuhkan kerja keras dan komitmen yang terus menerus pada seluruh level perusahaan dari manajemen sampai dengan karyawan. Beberapa kasus menunjukkan ISO 22000 hanya berhasil pada awal pengajuan sertifikasi dan pada kelengkapan prosedur mutu/ dokumen, namun penerapan riil di lapangan masih kurang optimal.

Oleh sebab itu, ada baiknya melihat kondisi perusahaan dan menyusun target yang realistis sebelum menentukan panduan sistem keamanan pangan yang dapat diterapkan secara kontinyu. Karena produksi pangan yang aman harus dijaga dan dipertahankan selama industri beroperasi.