Senin, 20 April 2020 - 16:36:36 WIB
Geliat Laboratorium Rujukan Nasional Residu Pestisida di Tengah Pandemi Covid19
Diposting oleh : LRPPI Residu Pestisida
Kategori: Artikel - Dibaca: 148 kali

Di tengah pandemi Covid19 yang tengah melanda dunia, Indonesia juga mengalami masa sulit dalam rangka melawan penyebaran penyakit ini. Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk membatasi pergerakan masyarakat, termasuk peraturan social distancing yang mengharuskan work from home (WFH)bagi para aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan yang secara langsung berdampak bagi kegiatan laboratorium rujukan nasional residu pestisida. Salah satu tanggung jawab laboratorium rujukan nasional adalah menyelenggarakan kegiatan uji profisiensi (UP) bagi jejaring laboratorium pengujian residu pestisida yang ada di bawahnya setiap tahun. Sebelum membagikan sampel UP residu pestisida, terlebih dahulu laboratorium akan melakukan suatu studi pendahuluan untuk memastikan bahwa pestisida yang akan ditentukan konsentrasinya dalam sampel benar-benar stabil dan homogen selama periode berlangsungnya uji profisiensi. Kegiatan ini dinamakan feasibility study. Kegiatan ini idealnya dilaksanakan selama 6 minggu, untuk melihat kestabilan pestisida tertentu dalam suatu matriks tertentu. Peraturan social distancing yang mengharuskan work from home (WFH)bagi para aparatur sipil negara (ASN) juga berakibat pada laboratorium rujukan nasional residu pestisida.

Laboratorium sudah menyiapkan sampel feasibility study untuk puree stroberi dengan perencanaan waktu feasibility study seperti Tabel 2. Alasan pemilihan matriks stroberi karena FAPAS memiliki quality control material (QCM) untuk matriks ini. Konsentrasi pestisida dalam QCM stroberi FAPAS akan digunakan untuk menurunkan nilai konsentrasi sampel UP dengan cara yang dikenal dengan istilah assigned value. Penentuan nilai sampel UP dengan cara assigned value disepakati dari hasil pertemuan jejaring laboratorium pengujian residu pestisida pada bulan Desember 2019 yang lalu, disamping itu Direktorat Standardisasi dan Pengendalian Mutu sebagai penyelenggara uji profisiensi (PUP) mengusahakan adanya peningkatan kemampuan dari segi penentuan nilai sampel UP. Ada beberapa jenis pestisida yang tidak ada dalam QCM stroberi FAPAS, tetapi ditambahkan dalam puree stroberi, dengan tujuan agar semakin banyak laboratorium peserta yang dapat berpartisipasi dalam kegiatan UP ini. Sedangkan untuk pestisida yang tidak ada dalam QCM stroberi FAPAS, akan ditentukan nilai konsentrasinya dengan cara konsensus.

Sampel feasibility study puree stroberi selesai disiapkan pada tanggal 21 Februari 2020, pada hari yang sama langsung ditentukan konsentrasi residu pestisida dalam puree stroberi dan nilai konsentrasi yang didapatkan dianggap sebagai konsentrasi pada hari ke nol (H0). Berikut jadwal kegiatan feasibility study yang direncanakan oleh laboratorium.

Perencanaan jumlah sampel ditampilkan pada Tabel 1.

Perlakuan

Suhu (0C)

Waktu (hari/minggu)

Dalam kemasan

25 - 30

0

3

7

2

3

4

5

6

7

8

Oven

50

3

7

2

3

 

 

 

 

 

Kulkas

0 - 4

3

7

2

3

4

5

6

7

8

Freezer

< 0

3

7

2

3

4

5

6

7

8

Masing-masing botol direncanakan akan berisi 30g puree stroberi, sehingga dibutuhkan puree stroberi sejumlah minimal 1860g.

Sedangkan rencana pelaksanaan kegiatan feasibility study ditampilkan pada Tabel 2.

Perlakuan

Suhu (0C)

Tanggal (tahun2020)

Dalam kemasan

25 - 30

21-02

24-02

28-02

06-03

13-03

20-03

27-03

03-04

09-04

17-04

Oven

50

24-02

28-02

06-03

13-03

 

 

 

 

 

Kulkas

0 - 4

24-02

28-02

06-03

13-03

20-03

27-03

03-04

09-04

17-04

Freezer

< 0

24-02

28-02

06-03

13-03

20-03

27-03

03-04

09-04

17-04

Ketika keputusan kementerian untuk WFH dilaksanakan tanggal 16 Maret 2020, laboratorium baru sampai pada pengamatan stabilitas di minggu ketiga. Laboratorium masih berusaha melakukan pengamatan di minggu keempat (20 Maret 2020), tetapi karena pemberlakuan social distancing yang diperketat maka ASN Kementerian Perdagangan termasuk di  Direktorat Standardisasi dan Pengendalian Mutu harus melaksanakan WFH secara penuh, untuk membatasi pergerakan seluruh ASN dalam rangka mendukung peraturan pemerintah, maka laboratorium memutuskan untuk tidak melanjutkan kegiatan pengamatan feasibility study. Pada akhirnya laboratorium hanya memperoleh empat minggu data pengamatan stabilitas pestisida dalam kandidat matriks UP 2020, yaitu puree stroberi.

Sampel feasibility study diamati pada empat kondisi pengamatan, yaitu :

  • Dalam kemasan yang disimpan dalam ruangan dengan suhu 25 – 30 0C dengan pertimbangan suhu yang dilewati sampel UP selama masa pengiriman, dengan catatan kondisi pengiriman yang cukup baik dan ice gel yang digunakan untuk menjaga suhu sampel berfungsi dengan baik
  • Dalam kemasan yang disimpan dalam oven dengan suhu maksimal 50 0C dengan pertimbangan suhu yang dilewati sampel UP selama masa pengiriman, dengan catatan kondisi pengiriman yang sangat buruk dan ice gel yang digunakan untuk menjaga suhu sampel tidak berfungsi dengan baik atau disebabkan oleh pengiriman yang terlalu lama
  • Dalam kemasan yang disimpan dalam kulkas dengan suhu 0 – 4 0C dengan pertimbangan suhu penyimpanan sampel UP selama masa pengiriman, dengan catatan kondisi pengiriman yang sangat baik dan ice gel yang digunakan untuk menjaga suhu sampel berfungsi dengan sangat baik, artinya pengiriman tidak terlalu lama dan sampel langsung disimpan di kulkas setelah diterima oleh laboratorium peserta

Dalam kemasan yang disimpan dalam freezer dengan suhu0C dengan pertimbangan suhu penyimpanan sampel UP yang paling ideal untuk mencegah kerusakan matriks sampel maupun residu pestisida yang terkandung di dalamnya.

 

Gambar 1. Perbedaan warna puree stoberi pada empat kondisi yang berbeda secara kasat mata

 

Hasil feasibility study selama empat minggu diharapkan sudah dapat digunakan oleh laboratorium untuk memberikan gambaran kestabilan kandidat matriks UP dan residu pestisida yang akan ditentukan nilainya, selain itu untuk PUP, juga dapat digunakan sebagai perkiraan pelaksanaan seluruh skema UP mulai dari pengiriman proposal ke peserta, penyiapan sampel UP oleh laboratorium, rentang waktu bagi laboratorium peserta untuk menentukan konsentrasi sampel UP. Sedangkan waktu pelaporan konsentrasi sampel yang diperoleh masing-masing laboratorium tidak lagi dipengaruhi oleh kestabilan sampel.

Kegiatan pengamatan feasibility study yang harus dilakukan di dalam laboratorium, secara tidak langsung terkendala dengan adanya aturan social distancing, dimana ASN diharapkan bekerja dari rumah. Bagaimanapun kondisinya, laboratorium telah mengupayakan yang terbaik di tengah segala keterbatasan dan ancaman penyebaran virus Covid19 di depan mata, agar kegiatan UP tahun 2020 dapat tetap terlaksana dengan baik. Semoga pandemi ini segera berakhir di dunia pada umumnya dan Indonesia khususnya, agar geliat kegiatan perekonomian, pemerintahan, pendidikan dan yang lainnya segera kembali berjalan dengan normal tanpa ketakutan akan penyebaran virus Covid19.